Salah satu bentuk kegiatan upaya penanggulangan penyakit tuberculosis di lingkup SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar adalah Expansi ke lembaga atau instansi instansi untuk penemuan kasus TB, ini tentunya diharapkan agar tuberculosis dapat ditemukan secara dini dan sesegera mungkin dapat dilakukan penatalaksanaan dan memutuskan mata rantai penularan TB.
Sebagai langkah awal untuk tahun ini dan berdasar pada DPA Dinas Kesehatan TA. 2014 Dinas Kesehatan telah melakukan kegiatan sosialisasi Tuberculosis kepada Warga Binaan Lapas Kelas II Polewali. Urgency kegiatan ini menjadi sangat penting mengingat LAPAS dengan penghuni melebihi kapasitas yang tentunya belum bisa menjamin terpeliharanya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Pada kesempatan kali ini “dr.Hj. Nurlina Dj, M.Kes” selaku Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar memberikan sosialisasi kepada warga binaan dengan apa dan bagaimana pencegahan tuberculosis. Acara yang berlangsung di Aula Lapas ini dihadiri oleh Warga Binaan yang jumlahnya lebih 250. Antusias dari warga binaan untuk mendengarkan dan menyimak materi yang disampaikan sangat positif, terbukti seorang warga binaan Tn “J” memberi pertanyaan tentang gejala gejala penyakit TB dan bagaimana penularan TB dengan pemakaian alat makan minum secara bersama.

Monev TB at Lilianto Hotel

Posted: 21 Oktober 2012 in Uncategorized

OLYMPUS DIGITAL CAMERAMonev TB yang diselenggarakan di Meeting Room Hotel Lilianto tanggal 18 sampai 19 Oktober 2012 kemarin yang mana acara ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar dr. H. Ayub Ali, MM didampingi dr. Hj. Syamsiah, M. Si selaku Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar dan juga dihadiri oleh H. Abd. Madjid, SKM, M. Kes yang juga selaku Narasumber dan PPO GF TB Prov. Sulbar menuai banyak pertanyaan, salah satu diantaranya adalah :

1. Angka Penjaringan Suspect TB yang cakupannya masih jauh dari harapan

2. Beberapa Fasyankes Angka Peneman kasus baru TB melebihi dari target, sementara beberapa diantaranya masih jauh dari target.

Dari pertanyaan diatas, dr. Hj. Syamsiah, M. Si menerangkan bahwa :

1. Penemuan kasus TB kurang disebabkan karena penjaringan suspect TB kita sendiri kurang. Lebih lanjut beliau menerangkan bahwa Penjaringan suspect TB kurang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah kurangnya dukungan, terutama dukungan dana BOK untuk melakukan salah satu kegiatan intensifikasi penemuan kasus TB (pemeriksaan kontak serumah penderita TB) yang mana diketahui bersama bahwa dana BOK sendiri peruntukannya untuk kegiatan upaya upaya preventif dan promotif, untuk itu ke depan tentunya sudah dapat diantisipasi kegiatan kegiatan mana yang tingkat urgensinya tinggi untuk mendapatkan pendanaan guna mencapai tujuan MDG’s. Alasan lain adalah perlunya membangun kemitraan lintas sektor, karena masalah kesehatan ini adalah masalah yang universal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAUntuk pertanyaan no 2. dijawab oleh Bapak H. Abd. Madjid SKM, M. Kes. beliau menerangkan bahwa :

* Dulu dikenal istilah kantong kantong TB, untuk fasyankes dengan cakupan CDR lebih dari target kemungkinannya disebabkan karena memang daerah tersebut merupakan kantong kantong TB ; penduduk dengan hunian padat (over crowding), keadaan sanitasi lingkungan dan PHBS yang jelek

* Variatifnya estimasi penderita TB di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini menuntut Kemenkes untuk melakukan kajian ulang ; Riset.

Dan sebagai penutup dr. H. Ayub Ali, MM (Ka. Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar) mengajak kita untuk tetap bekerja dengan penuh hati nurani, tidak memandang Suku, Agama, Ras, dan Tempat dalam upaya pengendalian Tuberculosis.

Pada 24 Maret 1882, Robert Koch untuk pertama kalinya menemukan mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TB, Tanggal 24 Maret selanjutnya dianggap sebagai tonggak sejarah upaya penanggulangan penyakit TB, sehingga tanggal 24 Maret ditetapkan sebagai hari TB sedunia.

Di Kab. Polewali Mandar, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Kab. Polewali Mandar 540 (kasus baru BTA Pos). Diperkirakan setiap tahun ada 832 kasus baru TB. Dari jumlah penderita TB yang ada, 70% merupakan usia produktif. Insidensi kasus TB BTA Positif sekitar 210 per 100.000 penduduk.

Keadaan ini diperberat dengan munculnya pandemi HIV-AIDS. Koinfeksi dengan HIV meningkatkan kejadian TB secara Significant. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multi drug resistance = MDR ) semakin menjadi masalah dan akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.

Berbagai tantangan yang dihadapi dalam upaya penanggulangan TB nasional adalah ;

1. Beban yang bervariasi di 3 wilayahIndonesia yaitu Sumatera, Jawa-Bali dan Kawasan Timur Indonesia.

2. Keterbatasan akses terhadap pelayanan TB yang disebabkan keadaan geografis dan sosial ekonomi.

3. Pengembangan kemitraan.

4. Masih rendahnya rendahnya Komitmen Politik dan Kepemilikan terhadap upaya penanggulangan TB nasional yang menjamin keberlangsungan pendanaan.

Selain itu minimnya kesadaran masyarakat, ketersediaan informasi tentang penyakit TB serta pelayanan TB yang berkualitas dan mudah dijangkau masyarakat juga merupakan tantangan yang tidak kalah pentingnya. Bila ditilik kepada setiap propinsi maka pencapaian CDR (Case Detection Rate / Angka Penemuan Kasus ) ini belum secara merata. Variasi di daerah dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya, jejaring pelayanan yang melibatkan Rumah Sakit baik pemerintah, institusi dan swasta, dokter praktek swasta serta klinik klinik swasta.

Kita memang telah membuat kemajuan yang berarti, namun permasalahan ganda yang muncul (TB-HIV dan TB-MDR) mendorong kita untuk berbuat lebih banyak, lebih baik dan lebih cepat.

Mengingat besarnya masalah ini, maka sudah sewajarnyalah seluruh masyarakat¬† Polewali Mandar memberikan perhatian yang serius terhadap program penanggulangan penyakit TB. Peningkatan partisipasi seluruh masyarakat untuk membentuk komitmen sosial dalam penanggulangan dan mendekatkan pelayanan TB sesuai dengan strategi DOTS kepada masyarakat perlu dilakukan secara bersama. Pendekatan dengan terobosan baru diharapkan menggugah kepedulian terhadap kegawatan TB dan mengakselerasi upaya yang melibatkan seluruh pembuat kebijakan untuk mencapai target MDG’s.

Peringatan Hari TB sedunia yang terus diperingati setiap tahunnya pada tanggal 24 Maret adalah sesuai dengan salah satu strategi upaya penanggulangan TB nasional. terdapat 7 strategi upaya penanggulangan TB nasional yaitu :

1. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang berkualitas

2. Menghadapi tantangan TB/HIV, TB MDR dan lainnya

3. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan

4. Melibatkan penderita TB dan masyarakat

5. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program penanggulangan TB

6. Memberikan kontribusi dan memperkuat Sistem Kesehatan serta manajemen program penanggulangan TB

7. Meningkatkan penelitian operasional

Diharapkan dengan adanya peringatan Hari TB sedunia yang diperingati setiap tahunnya akan meningkatkan kepedulian dan kepemilikan terhadap upaya penanggulangan TB nasional dari pemerintah pusat maupun daerah, lintas program dan lintas sektor terkait juga mitra lainnya mulai dari LSM, organisasi sosial, organisasi masyarakat, organisasi pemuda, organisasi keagamaan dan mitra lainnya akan berperan aktif dan menjadi motor dalam upaya penanggulangan TB Nasional

Adapun peringatan hari TB sedunia setiap tahun sesuai dengan tema yang telah ditetapkan dan juga sesuai dengan strategi nasional upaya penanggulangan TB nasional, sehingga dalam pelaksanaannya tidak hanya pada hari puncak saja tetapi merupakan rangkaian kegiatan 1 (satu) tahun penuh sesuai dengan tema yang telah ditetapkan.

Penemuan kasus bertujuan untuk mendapatkan kasus TB melalui serangkaian kegiatan mulai dari penjaringan terhadap suspek TB, pemeriksaan fisik dan laboratories, menentukan diagnosis dan menentukan klasifikasi penyakit dan tipe pasien TB, sehingga dapat dilakukan pengobatan agar sembuh dan tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain. Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis, penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien.

Kegiatan ini membutuhkan adanya pasien yang memahami dan sadar akan gejala TB, akses terhadap fasilitas kesehatan dan adanya tenaga kesehatan yang kompeten yang mampu melakukan pemeriksaan terhadap gejala dan keluhan tersebut.

Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan tatalaksana pasien TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan dapat men urunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat.

Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit bahwa pada tahun 2011 Angka Penemuan Kasus Baru Penyakit TB hanya mencapai 64,89 % dari target Nasional 70 %. Angka yang belum bisa dibanggakan dalam upaya akselerasi upaya penanggulangan TB. Perlunya komitmen dan dukungan dana menjadi faktor utama dalam hal pemberantasan penyakit TB, tanpa mengabaikan dukungan dari masyarakat itu sendiri.

Monev TB

Posted: 14 Juli 2011 in Uncategorized
Tag:

Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. Pemantauan dilaksanakan secara berkala dan terus menerus, untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan, supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera.

Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak – waktu (interval) lebih lama, biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program.

  1. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai denan azas desentralisasi dengan Kabupaten/Kota sebagai titik berat manajemen program dalam kerangka otonomi yang meliputi : persencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana)
  2. Penaggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS
  3. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB
  4. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB.
  5. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), meliputi Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. Rumah Sakit Paru (RSP), Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4), Klinik Pengobatan lain serta Dokter Parktek Swasta (DPS). Baca entri selengkapnya »

Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberkulosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB di seluruh dunia. Diperkirakan 95 % kasus TB dan 98 % kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara negara berkembang. Demikian juga kematian wanita akibat TB lebih banyak daripada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas.
Sekitar 75 % pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Baca entri selengkapnya »